Jakarta (KABARIN) - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada awal perdagangan Senin pagi tercatat naik 29,02 poin atau 0,41 persen ke level 7.158,51.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Brigita Kinari, dalam analisanya di Jakarta, Senin, menilai pergerakan IHSG dalam jangka pendek masih cenderung bergerak variatif dengan kecenderungan konsolidasi hingga melemah.
Tekanan pasar terutama berasal dari sentimen global yang masih didominasi aksi risk-off, ditambah pelemahan nilai tukar rupiah yang berpotensi memicu arus keluar modal asing.
Secara teknikal, setelah penutupan perdagangan Jumat (24/4) di level 7.129, IHSG berada dalam kondisi oversold setelah menutup gap pada kisaran 7.308-7.346. Situasi ini membuka peluang terjadinya penguatan jangka pendek, meskipun terbatas.
"Fokus pasar kini tertuju pada pengujian support krusial di rentang 7.100-7.150. Apabila level ini gagal dipertahankan, IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan untuk menutup gap berikutnya di area 7.022-7.080 hingga menguji support psikologis di sekitar 6.917," ujar Brigita.
Dari sisi global, belum tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memperpanjang ketidakpastian geopolitik yang dapat mengganggu stabilitas pasar energi dunia.
Tanpa adanya de-eskalasi, pasar memperkirakan potensi terbatasnya pasokan energi global yang bisa menjaga harga tetap tinggi. Kondisi ini berisiko menahan penurunan inflasi global sekaligus membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter dalam jangka pendek.
Selain itu, Brigita menyebut ekspektasi terhadap kebijakan bank sentral AS (The Fed) kembali bergeser lebih hawkish seiring masih tingginya risiko inflasi berbasis energi.
Secara keseluruhan, kondisi ini membuat investor cenderung mengambil posisi hati-hati dengan mengalihkan dana ke aset safe haven seperti dolar AS dan komoditas energi.
Sementara itu dari dalam negeri, pasar dipengaruhi oleh penyesuaian harga BBM nonsubsidi serta tekanan pada rupiah yang sempat melemah hingga sekitar Rp17.315 per dolar AS.
Kenaikan harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax dan Dex Series sejak 18 April dipandang sebagai respons terhadap harga energi global yang masih tinggi sekaligus upaya menjaga stabilitas fiskal.
Namun demikian, kondisi tersebut diperkirakan dapat menimbulkan tekanan inflasi jangka pendek, terutama pada sektor transportasi dan logistik, yang berpotensi menekan daya beli masyarakat serta margin sektor berbasis konsumsi.
Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur 22-23 April 2026, disertai langkah intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas rupiah.
"Kebijakan ini diiringi dengan intervensi di pasar valas serta optimalisasi instrumen moneter guna meredam volatilitas. Meski demikian, pelemahan rupiah tetap meningkatkan risiko imported inflation dan memperbesar potensi capital outflow, khususnya dari pasar obligasi," kata Brigita.
Ia menambahkan, kombinasi kebijakan moneter yang ketat dan penyesuaian harga energi mencerminkan sikap otoritas yang defensif serta antisipatif dalam menjaga stabilitas ekonomi.
Meski begitu, pasar diperkirakan masih akan bergerak hati-hati dalam jangka pendek, dengan arah pergerakan yang sangat dipengaruhi oleh efektivitas kebijakan dalam meredam volatilitas, menjaga nilai tukar, dan mempertahankan arus modal asing tanpa mengganggu pertumbuhan ekonomi.
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026